Sudah 2 bulan saya berada di Jakarta, menikmati asap koantas, bajaj dan kopaja tentunya. Di iringi gema merdu klakson mobil-mobil mewah yang egois, dan kendaraan roda dua yang seperti bebas melahap trotoar. Bangunan bagunan yang entah kenapa masih aja belum selesai pembangunannya sampai sekarang, padahal setahun yang lalu ya bentuknya kayak gini. Sudahlah, mungkin para pekerja mulai lelah.

Masuk kantor jam 8 pagi, pulang jam 5 sore, begitulah kegiatan rutin saya dari Senin sampai Jumat, selama seminggu, sebulan dan sampai beberapa bulan kedepan. Penat pastinya terlintas di benak ini, untung saja lagu-lagu lama sudah saya siapkan secara rapi untuk menemani dikala malam. Film-film dari dia yang tak boleh disebut namanya juga sudah saya siapkan untuk mengobati rasa kangen. Mungkin kali ini akan menjadi waktu yang terasa sangat panjang di Jakarta.

Berbeda dengan kantor yang dulu, sekarang saya ditempatkan di salah satu gedung di daerah Citos, Gedung Alamanda namanya, di sebelah kirinya Talavera pas, dan di dekat gedung Elnusa. Kantornya tinggi, bersih, bebas rokok, dan yang jelas saya pilih tempat duduk dekat dengan jendela, biar bisa lihat-lihat keluar kalau lagi pusing. Tapi sayangnya lemburan agak susah prosedurnya, sehingga ya sabtu minggu saya tidak ada kerjaan di kos. Jadi memang benar, sangat panjang rasanya kali ini saya di Jakarta.

"Siapa yang ada rencana gedhe pangrango bulan ini?????" Iseng saya tulis di wall pesbuk sebelum menginjak akhir tahun 2014. Status yang geje tersebut ternyata ada yang merespon. Ada beberapa monyet kepancing, dan akhirnya kita deal naik gunung. Rasanya begimana gitu deh, baru 2 minggu di Jakarta bisa naik gunung, aaaaaaaaa. Memang saya sudah agak penat, pengen yang namanya ngirup udara segar di gunung. Kebetulan gunung yang terdekat di Jakarta ya Gede dan Pangrango. Akhirnya saya ikut saja sama Kaka Terry dkk, nimbrung aja, sekalian nambah teman di gunung. Dan beginilah ceritanya, walaupun kejadiannya 20 Desember tahun 2014, tapi nggak apalah itung-itung biar keliatan kayak Blogger aktip gitu deh.

Perjalanan dimulai dari kos dengan bismillah. Yang planning sebelumnya lewat Bogor naik kereta, akhirnya berubah rencana naik bus langsung ke Cibodas. Marita namanya, sebuah bus yang terdengar elok di pikiran saya. Membayangkan sebuah bus besar, dengan kursi empuknya dan dingin AC nya. Sepertinya menapuk hati saya yang telah menunggu hampir 4 jam di kampung rambutan. Perjalanan yang diramalkan hanya 2 jam molor menjadi 4 jam, ditambah lagi penumpang yang berjubel memaksa saya untuk mengalah dan berdiri.

Sekitar ba'da isya saya sampai di pertigaan cibodas, ingat ya "pertigaan cibodas". Jadi nanti kalau diturunin sopirnya nggak di pertigaan mendingan tanya orang, dan minimal tanyanya 3 orang ya. Soalnya kemarin saya ketipu sama orang yang sok teu jalan dan menjerumuskan, pokoknya 2 orang yang sok teu itu asu banget deh. Sampai di pertigaan nanti bisa naik angkot ke basecamp, oh iya kalau mau ngurus ijin, mendingan datangnya agak siangan biar nggak tutup kantornya. Kalau kemarin saya udah di urusin sama kaka Andi, jadi ya tinggal pancal ke atas aja. yuuukkkkkk... makasih kaka kaka semua.. Sebagai info saja, kalau mau naik Gede and Pangrango musti ijin online 3 minggu sebelumnya, ribet kan????

Start mulai pendakian sekitar jam 22.30 an, target sampai pos terakhir "Kandang Badak" sekitar jam "tidak tahu". Pendakian kali ini saya tidak target-targetan, yang penting naik gunung, puncak nggak terlalu ngarepin. Tetapi tetep planing sebelum subuh harus ngediriin dome buat bermalam, besoknya muncak, malamnya sampai Jakarta, paginya kerja rodi lagi. Planing yang gak jelas banget.

Yang asik di Gede-Pangrango itu perjalanan menuju puncaknya, ada air terjun, air panas, kanan kiri pohon-pohon rindang yang terawat, hijau selayaknya pohon pada umumnya, masih alami dan segar. Tapi sayang jalurnya sudah nggak alami, batu-batu besar sudah tersusun rapi mempermudah jalannya para pendaki. Berbeda dengan Gunung Lawu yang jelas berbentuk anak tangga, kalau Gede-Pangrango ini batu-batu yang disusun dan dibuat alami tetapi nggak alami. Efeknya nanti pas turun, kalau nggak tumit, kempol atau pahanya kena deh.

Dan……
Puncak Gede.
Cepet banget kan ceritanya, cuman satu paragraf sudah kelar aja.

puncak gede
Puncaknya biasa aja, tapi otw nya yang menyenangkan.
Gede Pangrango, sebuah gunung di Indonesia yang terkenal sangat amat ribet dalam perijinannya. Sepertinya berhasil membuat saya jatuh cinta, mencumbu embunnya, menghirup nafasnya, melewati paru-paru dan seakan membersihkannya. Suatu saat Saya akan menyapa mu lagi Gede, tapi dari puncak Pangrango, agar kau cemburu dengannya.

Terima kasih buat mbak-mbak eks Mahafisipa (Mapala fak. fisip UNS) Tery-mbil dan Binti maemunah yang strong abizzz.

Terima kasih buat temen temen Republika yang kece abis, Mas Andi, mbak frau yang lupa namanya, Indri, dan Desy, kalian semua wartawan yang luar biasa joss kawan.

Buat 2 orang yang sampai di puncak dengan keteguhan, selamat datang di kawasan orang-orang gagah ya..

Setiap lekukan rongga nafas membutuhkan sentilan sentilan embun segar. Sedikit bumbu tekanan, tantangan, keterbatasan serta ke egoisan. Buaian kebosanan harus disiramkan perlahan, hingga nantinya kalian akan merasakan apa arti sebuah kenikmatan.

Foto-fotonya dibawah ya....

kandang badak pangrango
Serius itu perutnya cuman tipuan kamera semata

jalur puncak gede
Jalur menuju puncak sudah ada gocekan nya tapi nggak ada abang ojek nya.

kandang badak gede pangrango
Nah kalau mau muncak ke Pangrango tinggal belok kanan, kalau mau ke gede lurus, kalau mau mie ayam balik lagi aja ke kandang badak.
Kasus di tutup.
Tidur dolo, sambil dengerin "Siapa suruh datang jakarta, siapa suruh datang jakarta" dari steven,
Oh iya, sampai Jumpa besok di Kuningan blogie blogie yang kece abies.
Sorry banyak typo nih,
thanks.


Sudah 2 bulan saya berada di Jakarta, menikmati asap koantas, bajaj dan kopaja tentunya. Di iringi gema merdu klakson mobil-mobil mewah yang egois, dan kendaraan roda dua yang seperti bebas melahap trotoar. Bangunan bagunan yang entah kenapa masih aja belum selesai pembangunannya sampai sekarang, padahal setahun yang lalu ya bentuknya kayak gini. Sudahlah, mungkin para pekerja mulai lelah.

Masuk kantor jam 8 pagi, pulang jam 5 sore, begitulah kegiatan rutin saya dari Senin sampai Jumat, selama seminggu, sebulan dan sampai beberapa bulan kedepan. Penat pastinya terlintas di benak ini, untung saja lagu-lagu lama sudah saya siapkan secara rapi untuk menemani dikala malam. Film-film dari dia yang tak boleh disebut namanya juga sudah saya siapkan untuk mengobati rasa kangen. Mungkin kali ini akan menjadi waktu yang terasa sangat panjang di Jakarta.

Berbeda dengan kantor yang dulu, sekarang saya ditempatkan di salah satu gedung di daerah Citos, Gedung Alamanda namanya, di sebelah kirinya Talavera pas, dan di dekat gedung Elnusa. Kantornya tinggi, bersih, bebas rokok, dan yang jelas saya pilih tempat duduk dekat dengan jendela, biar bisa lihat-lihat keluar kalau lagi pusing. Tapi sayangnya lemburan agak susah prosedurnya, sehingga ya sabtu minggu saya tidak ada kerjaan di kos. Jadi memang benar, sangat panjang rasanya kali ini saya di Jakarta.

"Siapa yang ada rencana gedhe pangrango bulan ini?????" Iseng saya tulis di wall pesbuk sebelum menginjak akhir tahun 2014. Status yang geje tersebut ternyata ada yang merespon. Ada beberapa monyet kepancing, dan akhirnya kita deal naik gunung. Rasanya begimana gitu deh, baru 2 minggu di Jakarta bisa naik gunung, aaaaaaaaa. Memang saya sudah agak penat, pengen yang namanya ngirup udara segar di gunung. Kebetulan gunung yang terdekat di Jakarta ya Gede dan Pangrango. Akhirnya saya ikut saja sama Kaka Terry dkk, nimbrung aja, sekalian nambah teman di gunung. Dan beginilah ceritanya, walaupun kejadiannya 20 Desember tahun 2014, tapi nggak apalah itung-itung biar keliatan kayak Blogger aktip gitu deh.

Perjalanan dimulai dari kos dengan bismillah. Yang planning sebelumnya lewat Bogor naik kereta, akhirnya berubah rencana naik bus langsung ke Cibodas. Marita namanya, sebuah bus yang terdengar elok di pikiran saya. Membayangkan sebuah bus besar, dengan kursi empuknya dan dingin AC nya. Sepertinya menapuk hati saya yang telah menunggu hampir 4 jam di kampung rambutan. Perjalanan yang diramalkan hanya 2 jam molor menjadi 4 jam, ditambah lagi penumpang yang berjubel memaksa saya untuk mengalah dan berdiri.

Sekitar ba'da isya saya sampai di pertigaan cibodas, ingat ya "pertigaan cibodas". Jadi nanti kalau diturunin sopirnya nggak di pertigaan mendingan tanya orang, dan minimal tanyanya 3 orang ya. Soalnya kemarin saya ketipu sama orang yang sok teu jalan dan menjerumuskan, pokoknya 2 orang yang sok teu itu asu banget deh. Sampai di pertigaan nanti bisa naik angkot ke basecamp, oh iya kalau mau ngurus ijin, mendingan datangnya agak siangan biar nggak tutup kantornya. Kalau kemarin saya udah di urusin sama kaka Andi, jadi ya tinggal pancal ke atas aja. yuuukkkkkk... makasih kaka kaka semua.. Sebagai info saja, kalau mau naik Gede and Pangrango musti ijin online 3 minggu sebelumnya, ribet kan????

Start mulai pendakian sekitar jam 22.30 an, target sampai pos terakhir "Kandang Badak" sekitar jam "tidak tahu". Pendakian kali ini saya tidak target-targetan, yang penting naik gunung, puncak nggak terlalu ngarepin. Tetapi tetep planing sebelum subuh harus ngediriin dome buat bermalam, besoknya muncak, malamnya sampai Jakarta, paginya kerja rodi lagi. Planing yang gak jelas banget.

Yang asik di Gede-Pangrango itu perjalanan menuju puncaknya, ada air terjun, air panas, kanan kiri pohon-pohon rindang yang terawat, hijau selayaknya pohon pada umumnya, masih alami dan segar. Tapi sayang jalurnya sudah nggak alami, batu-batu besar sudah tersusun rapi mempermudah jalannya para pendaki. Berbeda dengan Gunung Lawu yang jelas berbentuk anak tangga, kalau Gede-Pangrango ini batu-batu yang disusun dan dibuat alami tetapi nggak alami. Efeknya nanti pas turun, kalau nggak tumit, kempol atau pahanya kena deh.

Dan……
Puncak Gede.
Cepet banget kan ceritanya, cuman satu paragraf sudah kelar aja.

puncak gede
Puncaknya biasa aja, tapi otw nya yang menyenangkan.
Gede Pangrango, sebuah gunung di Indonesia yang terkenal sangat amat ribet dalam perijinannya. Sepertinya berhasil membuat saya jatuh cinta, mencumbu embunnya, menghirup nafasnya, melewati paru-paru dan seakan membersihkannya. Suatu saat Saya akan menyapa mu lagi Gede, tapi dari puncak Pangrango, agar kau cemburu dengannya.

Terima kasih buat mbak-mbak eks Mahafisipa (Mapala fak. fisip UNS) Tery-mbil dan Binti maemunah yang strong abizzz.

Terima kasih buat temen temen Republika yang kece abis, Mas Andi, mbak frau yang lupa namanya, Indri, dan Desy, kalian semua wartawan yang luar biasa joss kawan.

Buat 2 orang yang sampai di puncak dengan keteguhan, selamat datang di kawasan orang-orang gagah ya..

Setiap lekukan rongga nafas membutuhkan sentilan sentilan embun segar. Sedikit bumbu tekanan, tantangan, keterbatasan serta ke egoisan. Buaian kebosanan harus disiramkan perlahan, hingga nantinya kalian akan merasakan apa arti sebuah kenikmatan.

Foto-fotonya dibawah ya....

kandang badak pangrango
Serius itu perutnya cuman tipuan kamera semata

jalur puncak gede
Jalur menuju puncak sudah ada gocekan nya tapi nggak ada abang ojek nya.

kandang badak gede pangrango
Nah kalau mau muncak ke Pangrango tinggal belok kanan, kalau mau ke gede lurus, kalau mau mie ayam balik lagi aja ke kandang badak.
Kasus di tutup.
Tidur dolo, sambil dengerin "Siapa suruh datang jakarta, siapa suruh datang jakarta" dari steven,
Oh iya, sampai Jumpa besok di Kuningan blogie blogie yang kece abies.
Sorry banyak typo nih,
thanks.


Cahaya memancar dari kejauhan, tersapu dingin tipis embun pagi. Warnanya kuning memudar mendekati warna putih telur yang sekarang telah menjadi sumber energi hari ini. Terlihat ibu-ibu asyik mengayuh sepeda onthel buthutnya, dijejali karung-karung berisi rumput yang berdesak-desakan seakan ia berkata "aku rapopo". Dari kaca spion bulat si "merzy" (belum nemu nama yang oke), terlihat dari kejauhan abu-abu putih membuntutiku. Wajahnya berseri terlihat haus dengan ilmu pengetahuan, kemeja putihnya lusuh masuk rapi kedalam rok. Sepatu wariornya mengingatkanku akan indahnya masa sekolah, seperti sebuah candu yang menyelimuti sebuah buku. Rasanya pahit, tapi manis di sela-selanya.

Terlihat jam tangan menunjukan jam 6 kurang. Tak terasa sudah 5 jam saya mengarungi jalanan yang terkenal dengan Bus Sumber "Bencono" nya. Salah satu moda transportasi area jawa timuran yang terkenal gegara sering melahap korban. Tepatnya tanggal 26 Oktober kemarin baru bertambah satu lagi korban dari Sumber Group ini , seorang anggota klub Merzy dari Semarang yang akan mengikuti Jambore Nasional di Ngawi pun dilahap abis (semoga Bapak Yusuf tenang di alam sana).

Hari ini tujuan saya mau maen ke Rumah teman di daerah Blitar. Beralasan melihat air terjun dan pantai akhirnya sampai juga di depan rumahnya. Mungkin sekitar 10 meter dari rumahnya saya berhenti dan bertanya kepada warga sekitar dan menyebutkan kata kuncinya.
"Pak, ajeng tanglet. Griyanipun mbak "Galuh" menika pundi nggih?"
"Galuh?" Muka bapaknya sok mikir padahal asline nggak tau.

Bapaknya terlihat sok care sampai-sampai istri yang lagi sibuk menggendong bayi seumuran Esa pun dipanggil dan ditanya, tapi endingnya sama "kagak ngarti".

Selang berapa menit saya telpon yang namanya Galuh untuk mendapatkan kepastian meeting pointnya, cewek yang berjubah cowok ini saya kenal lewat salah satu situs traveling di internet, sebut aja situs CS. Kami tidak pernah saling berteman di situs CS tersebut, padahal kalau anggota CS paling demen yang namanya nambah temen di akunnya dan mendapat yang namanya positif respon dari member lain. Tapi kalau saya nggak tau menau masalah CS-CS an, yang penting ada temen dolan langsung berangkat. Kami akrab lewat facebook, kami suka dolan, dan sepertinya si Galuh juga suka yang berbau teater, seni, gua maupun gunung. Jangan bertanya dimana dia kuliah, pasti jawabnya kuliah di Surabaya. Orang yang satu ini ngak suka yang namanya manis,dan cinta yang namanya tidur.

Huft, motor jadul yang sempat berjaya di era 70-an ini saya starter. Masih pada inget nggak dulu film chip yang bintangnya dari Warkop DKI? Dono, Kasino dan Indro yang berperan sebagai polisi melu-melu film chip dari barat? Mungkin saya emang berjodoh dengan dono kalik ya?, ada yang bilang saya dari samping depan mirip Dono. Dulu helm model chip yang dipakai dono saya tebus dari teman saya karena kepincut tuntutan keserasian vespa dengan helmnya. Nah sekarang malah Motornya juga saya naikin, tinggal berpose ala chip pasti pada ngira kalau saya ini reinkarnasi Almarhum Dono. Semoga rejeki saya kayak Dono, aamiin. :D

Selang berapa detik setelah saya masukin gigi satu ternyata rumah si Galuh cuman 10 meteran dari lokasi saya bertanya tadi. Terlihat dari jauh cewek berjubah cowok dengan gigi kelincinya memegang HP samsung hitam-merah persis punyaku yang sudah di Hak Milik sama si Uto di rumah. HP ini di hibahi oleh kaka saya yang baik hati, cantik, tidak Sombong dan baru hepi-hepinya soalnya anak pertamanya sudah bisa lari keliling-keliling rumah. Tapi disabotase sama si Uto gara-gara HPnya yang persis sama HPku rusak, yaudah sebagai kaka yang baik hati saya relakan HP samsung hitam-merah tadi.

ayam potong blitar
Itu ayam kenape sadar kamera sih?.
Rumah si Galuh menurutku merupakan rumah idaman, sepertinya bangunan lama, terlihat dari temboknya mirip tembok rumahku dulu. Pekarangannya luas untuk ukuranku, di depan terdapat perkebunan bayam dan rumputnya, samping ada kandang kambing dan puyuh, di belakang terlihat ayam-ayam yang selalu semangat makan. Ada 2 atau 3 kolam ikan di belakang sana, dan yang menarik di balik sebuah tembok merupakan sawah yang luas, hijau dan basah, sejuk dan harum, wanginya matahari bercampur lumpur ditaburi suara khas desa. Suasananya bikin males balik Solo, sumprit.

Siang ini kami janjian ke air terjun dengan temen-temennya Galuh, anak-anak alay facebook (mungkin kelahiran Blitar) yang masih peduli dengan tanah kelahirannya. Sepintas mereka memiliki jalinan hubungan, sering jalan-jalan bareng melibas dari ujung ke ujung Blitar, atau emang mereka nggak ada kegiatan weekend ini. Kami melintas memasuki kota Blitar yang lagi panas-panasnya kala itu, berjanjian ketemu di jalan biar lebih efektif nggak tunggu-tungguan. Dan setelah terkumpul semua langsung meluncur ke Lokasi.

Kami dipandu oleh seorang cowok, Rambutnya panjang warna karat ke kuning-kuningan, Jauh dari kesan mahasiswa ITS ataupun mahasiswa teknik pada umumnya. Dia yang saya lupa namanya merupakan mantan mahasiswa ITS jurusan Teknik Metalurgi yang kampusnya sebelah kanan Teknik Mesin. Dan yang pasti setiap hari saya lewatin minimal 2 kali/hari dan minimal 5 hari/minggu. Dan sungguh menakjubkan di memory saya selama kuliah di ITS, saya tidak pernah melihat garis mukanya berkeliaran di area kampus. Mungkin saya yang kurang gaul jaman kuliah di ITS kemarin. Biarlah.

Cowok rambut karat dan ramah ini sepertinya adventure sejati yang selalu mencari area-area baru untuk dijadikan area private nya. Dari air terjun, pantai ataupun gua merupakan kamar pribadinya yang selalu melambai-lambai untuk dikunjungi. Terlihat dari barang bawaannya yang safety abis, sebuah tas ransel lusuh bertambalkan hansaplast, sebuah termos, dan pelampung sudah membuktikan kalau dia merupakan orang yang teliti, sedia payung sebelum banjir. Ditambah sebuah kompas entah buat apa juga dia bawa, kurang kernmantel aja ini tinggal panjat tuh tebing.

air terjun blitar
Masih sepi, asyik buat nongki-nongki.
Dan sekarang saya diberi kehormatan melihat kamar pribadinya yang lumayan wah untuk ukuran pecinta Gua seperti saya ini. Perlu 15 menit menyusuri pepohonan yang terlihat sudah jarang dilewati orang, terlihat bekas sungai dengan air yang sudah mulai mengering di kanan jalan. Dari kejauhan sudah terdengar rintikan air walupun pelan tetapi terdengar pasti. Lama-lama terlihat aliran air walupun kecil tapi ada air disana, iya air!!!. Dan terlihat sebuah tembok mirip runtuhan Gua, yang colepst kokoh sombong menghadang. Dialiri air gemericik, lentik dan cantik, Hijaunya masih alami, di bawahnya dihiasi daun kering yang mengapung seakan tak mau kalah dengan lumut-lumut di tepi tebing. Airnya disulap hijau keputihan, khas kawasan karst, Teduh seakan menghipnotis kami agar enggan beranjak pulang. Sekotak Ketela pohon pun serasa pizza ditemani gemericik air dan hembusan angin, serasa home teater 3D asli tanpa KW 1, KW 2, KW Super atau KW thailand.

binter merzy 83
Nyusahin orang aja nih motor
Terima kasih teman-teman baru yang saya sudah tidak ingat namanya, kita pasti akan bertemu lagi. Semua diciptakan dan dipertemukan pasti ada tujuannya. Terima kasih sudah ikut menemani nambal ban. Pengalaman yang tidak boleh saya lupakan. :D

Sebagai penutup, saya ada liontin perak tanpa tali nih. Siapa yang mau hayo silahkan kontek2 atau komen2 aja di bawah. Prefer cewek, ibu2, tante2, nenek2, area Solo and Jogja. Sekian dan terima rongsok.

liontin perak kota gedhe
Liontin perak khas kota gedhe yang susah bikinnya.


Cahaya memancar dari kejauhan, tersapu dingin tipis embun pagi. Warnanya kuning memudar mendekati warna putih telur yang sekarang telah menjadi sumber energi hari ini. Terlihat ibu-ibu asyik mengayuh sepeda onthel buthutnya, dijejali karung-karung berisi rumput yang berdesak-desakan seakan ia berkata "aku rapopo". Dari kaca spion bulat si "merzy" (belum nemu nama yang oke), terlihat dari kejauhan abu-abu putih membuntutiku. Wajahnya berseri terlihat haus dengan ilmu pengetahuan, kemeja putihnya lusuh masuk rapi kedalam rok. Sepatu wariornya mengingatkanku akan indahnya masa sekolah, seperti sebuah candu yang menyelimuti sebuah buku. Rasanya pahit, tapi manis di sela-selanya.

Terlihat jam tangan menunjukan jam 6 kurang. Tak terasa sudah 5 jam saya mengarungi jalanan yang terkenal dengan Bus Sumber "Bencono" nya. Salah satu moda transportasi area jawa timuran yang terkenal gegara sering melahap korban. Tepatnya tanggal 26 Oktober kemarin baru bertambah satu lagi korban dari Sumber Group ini , seorang anggota klub Merzy dari Semarang yang akan mengikuti Jambore Nasional di Ngawi pun dilahap abis (semoga Bapak Yusuf tenang di alam sana).

Hari ini tujuan saya mau maen ke Rumah teman di daerah Blitar. Beralasan melihat air terjun dan pantai akhirnya sampai juga di depan rumahnya. Mungkin sekitar 10 meter dari rumahnya saya berhenti dan bertanya kepada warga sekitar dan menyebutkan kata kuncinya.
"Pak, ajeng tanglet. Griyanipun mbak "Galuh" menika pundi nggih?"
"Galuh?" Muka bapaknya sok mikir padahal asline nggak tau.

Bapaknya terlihat sok care sampai-sampai istri yang lagi sibuk menggendong bayi seumuran Esa pun dipanggil dan ditanya, tapi endingnya sama "kagak ngarti".

Selang berapa menit saya telpon yang namanya Galuh untuk mendapatkan kepastian meeting pointnya, cewek yang berjubah cowok ini saya kenal lewat salah satu situs traveling di internet, sebut aja situs CS. Kami tidak pernah saling berteman di situs CS tersebut, padahal kalau anggota CS paling demen yang namanya nambah temen di akunnya dan mendapat yang namanya positif respon dari member lain. Tapi kalau saya nggak tau menau masalah CS-CS an, yang penting ada temen dolan langsung berangkat. Kami akrab lewat facebook, kami suka dolan, dan sepertinya si Galuh juga suka yang berbau teater, seni, gua maupun gunung. Jangan bertanya dimana dia kuliah, pasti jawabnya kuliah di Surabaya. Orang yang satu ini ngak suka yang namanya manis,dan cinta yang namanya tidur.

Huft, motor jadul yang sempat berjaya di era 70-an ini saya starter. Masih pada inget nggak dulu film chip yang bintangnya dari Warkop DKI? Dono, Kasino dan Indro yang berperan sebagai polisi melu-melu film chip dari barat? Mungkin saya emang berjodoh dengan dono kalik ya?, ada yang bilang saya dari samping depan mirip Dono. Dulu helm model chip yang dipakai dono saya tebus dari teman saya karena kepincut tuntutan keserasian vespa dengan helmnya. Nah sekarang malah Motornya juga saya naikin, tinggal berpose ala chip pasti pada ngira kalau saya ini reinkarnasi Almarhum Dono. Semoga rejeki saya kayak Dono, aamiin. :D

Selang berapa detik setelah saya masukin gigi satu ternyata rumah si Galuh cuman 10 meteran dari lokasi saya bertanya tadi. Terlihat dari jauh cewek berjubah cowok dengan gigi kelincinya memegang HP samsung hitam-merah persis punyaku yang sudah di Hak Milik sama si Uto di rumah. HP ini di hibahi oleh kaka saya yang baik hati, cantik, tidak Sombong dan baru hepi-hepinya soalnya anak pertamanya sudah bisa lari keliling-keliling rumah. Tapi disabotase sama si Uto gara-gara HPnya yang persis sama HPku rusak, yaudah sebagai kaka yang baik hati saya relakan HP samsung hitam-merah tadi.

ayam potong blitar
Itu ayam kenape sadar kamera sih?.
Rumah si Galuh menurutku merupakan rumah idaman, sepertinya bangunan lama, terlihat dari temboknya mirip tembok rumahku dulu. Pekarangannya luas untuk ukuranku, di depan terdapat perkebunan bayam dan rumputnya, samping ada kandang kambing dan puyuh, di belakang terlihat ayam-ayam yang selalu semangat makan. Ada 2 atau 3 kolam ikan di belakang sana, dan yang menarik di balik sebuah tembok merupakan sawah yang luas, hijau dan basah, sejuk dan harum, wanginya matahari bercampur lumpur ditaburi suara khas desa. Suasananya bikin males balik Solo, sumprit.

Siang ini kami janjian ke air terjun dengan temen-temennya Galuh, anak-anak alay facebook (mungkin kelahiran Blitar) yang masih peduli dengan tanah kelahirannya. Sepintas mereka memiliki jalinan hubungan, sering jalan-jalan bareng melibas dari ujung ke ujung Blitar, atau emang mereka nggak ada kegiatan weekend ini. Kami melintas memasuki kota Blitar yang lagi panas-panasnya kala itu, berjanjian ketemu di jalan biar lebih efektif nggak tunggu-tungguan. Dan setelah terkumpul semua langsung meluncur ke Lokasi.

Kami dipandu oleh seorang cowok, Rambutnya panjang warna karat ke kuning-kuningan, Jauh dari kesan mahasiswa ITS ataupun mahasiswa teknik pada umumnya. Dia yang saya lupa namanya merupakan mantan mahasiswa ITS jurusan Teknik Metalurgi yang kampusnya sebelah kanan Teknik Mesin. Dan yang pasti setiap hari saya lewatin minimal 2 kali/hari dan minimal 5 hari/minggu. Dan sungguh menakjubkan di memory saya selama kuliah di ITS, saya tidak pernah melihat garis mukanya berkeliaran di area kampus. Mungkin saya yang kurang gaul jaman kuliah di ITS kemarin. Biarlah.

Cowok rambut karat dan ramah ini sepertinya adventure sejati yang selalu mencari area-area baru untuk dijadikan area private nya. Dari air terjun, pantai ataupun gua merupakan kamar pribadinya yang selalu melambai-lambai untuk dikunjungi. Terlihat dari barang bawaannya yang safety abis, sebuah tas ransel lusuh bertambalkan hansaplast, sebuah termos, dan pelampung sudah membuktikan kalau dia merupakan orang yang teliti, sedia payung sebelum banjir. Ditambah sebuah kompas entah buat apa juga dia bawa, kurang kernmantel aja ini tinggal panjat tuh tebing.

air terjun blitar
Masih sepi, asyik buat nongki-nongki.
Dan sekarang saya diberi kehormatan melihat kamar pribadinya yang lumayan wah untuk ukuran pecinta Gua seperti saya ini. Perlu 15 menit menyusuri pepohonan yang terlihat sudah jarang dilewati orang, terlihat bekas sungai dengan air yang sudah mulai mengering di kanan jalan. Dari kejauhan sudah terdengar rintikan air walupun pelan tetapi terdengar pasti. Lama-lama terlihat aliran air walupun kecil tapi ada air disana, iya air!!!. Dan terlihat sebuah tembok mirip runtuhan Gua, yang colepst kokoh sombong menghadang. Dialiri air gemericik, lentik dan cantik, Hijaunya masih alami, di bawahnya dihiasi daun kering yang mengapung seakan tak mau kalah dengan lumut-lumut di tepi tebing. Airnya disulap hijau keputihan, khas kawasan karst, Teduh seakan menghipnotis kami agar enggan beranjak pulang. Sekotak Ketela pohon pun serasa pizza ditemani gemericik air dan hembusan angin, serasa home teater 3D asli tanpa KW 1, KW 2, KW Super atau KW thailand.

binter merzy 83
Nyusahin orang aja nih motor
Terima kasih teman-teman baru yang saya sudah tidak ingat namanya, kita pasti akan bertemu lagi. Semua diciptakan dan dipertemukan pasti ada tujuannya. Terima kasih sudah ikut menemani nambal ban. Pengalaman yang tidak boleh saya lupakan. :D

Sebagai penutup, saya ada liontin perak tanpa tali nih. Siapa yang mau hayo silahkan kontek2 atau komen2 aja di bawah. Prefer cewek, ibu2, tante2, nenek2, area Solo and Jogja. Sekian dan terima rongsok.

liontin perak kota gedhe
Liontin perak khas kota gedhe yang susah bikinnya.


SIPA 2014 sudah dimulai. siapa sih yang nggak kenal dengan SIPA?. Event berskala internasional yang digelar di Solo setahun sekali ini sangat ditunggu-tunggu para penikmat seni. Baik dari luar Solo, seputaran Solo maupun dari kota lain nan jauh di Mato. Dari seni pertunjukan tari, musik, teather semua ada disini. Dari yang lokal sampai manca negara saling berkolaborasi di event ini.

Kali ini Sipa digelar sama persis tahun kemarin, yaitu di benteng Vastenburg Solo. Salah satu peninggalan jaman londo yang masih berdiri kokoh dipusat kota Solo. Benteng Vastenburg sendiri mulai bersinar setahun yang lampau, sebelumnya tempat ini hanya onggokan semen di tengah kota. Setelah pemerintahan Jokowow, Benteng ini mulai dibuka dan sering dipakai untuk event2 besar di Solo. Pinter juga nih pemerintahan kota Solo menyiasati kengerian benteng Vastenburg dengan kemeriahan event-event tahunan.

Sipa isinya apaan sih???

Kalau yang pernah nonton pasti nggak bakalan nglewatin event ini, mata kita ntar dimanjain pertunjuan-pertunjukan yang waow. Yang sangat NEW, yang mungkin kita baru lihat kali ini, pokoke mak nyuss. Ditemani lighting yang oke punya, kerlap kerlip kayak lampu diskotik, tata panggung yang mbois banget. Dari seni tari, musik, teather, nyanyi, tradisional, kontemporer, cowok, cewek, komplit.

Pengalaman nonton Sipa 2013 kemarin yang berkesan ntu tarinya, bikin ngeces dah, soalnya bening bening yang nari. Apalagi acaranya nonstop mpe malem, pokoke dimanjake dah penonton. Sayang kemarin nggak bawa kamera, udah gitu kamera hape nggak gelap gulita pulak.

solo international performing arts 2014
Kan bening, nyomot dari facebooknya sipa ini
Sipa 2014 udah dimulai tadi sore sampai besok Sabtu tanggal 11 September 2014. Jadi yang posisi sekarang di seputaran Solo, mendingan langsung packing daypacknya bawa alat mandi dan temenin saya nonton yak!!. Hehehe. Wis tidur rumahku nggak popo.

Untuk jadwal acara bisa dilihat di web resminya, Acaranya mulai jam 7 malem, tapi saran saya sih dateng aja sore menjelang malam,biar dapet kursi dan bisa cepret-cepret di depan tanpa halangan melintang. Bawa cemilan and minuman, jangan lupa bawa kamera beserta baterai dan memorynya tentunya. Pokoknya nyesel deh kalau sampai nggak bawa kamera ntar disana.

Sebagai info saja, event ini gratissssssss... Cuman parkir doank ya kalau bawa kendaraan, itupun standar tarif parkirnya.

Tunggu opo maneh???
 
Mumpung ada sms gratis, mau sms anak2 dulu siapa tau ada yang mau ngedate besok malming. Itung-itung melepas kegalauan bersama. Tak tunggu yak!!! Kalau yang dari Jogja mau ikutan, ayowk bareng prameks an. Tut tut tut..


SIPA 2014 sudah dimulai. siapa sih yang nggak kenal dengan SIPA?. Event berskala internasional yang digelar di Solo setahun sekali ini sangat ditunggu-tunggu para penikmat seni. Baik dari luar Solo, seputaran Solo maupun dari kota lain nan jauh di Mato. Dari seni pertunjukan tari, musik, teather semua ada disini. Dari yang lokal sampai manca negara saling berkolaborasi di event ini.

Kali ini Sipa digelar sama persis tahun kemarin, yaitu di benteng Vastenburg Solo. Salah satu peninggalan jaman londo yang masih berdiri kokoh dipusat kota Solo. Benteng Vastenburg sendiri mulai bersinar setahun yang lampau, sebelumnya tempat ini hanya onggokan semen di tengah kota. Setelah pemerintahan Jokowow, Benteng ini mulai dibuka dan sering dipakai untuk event2 besar di Solo. Pinter juga nih pemerintahan kota Solo menyiasati kengerian benteng Vastenburg dengan kemeriahan event-event tahunan.

Sipa isinya apaan sih???

Kalau yang pernah nonton pasti nggak bakalan nglewatin event ini, mata kita ntar dimanjain pertunjuan-pertunjukan yang waow. Yang sangat NEW, yang mungkin kita baru lihat kali ini, pokoke mak nyuss. Ditemani lighting yang oke punya, kerlap kerlip kayak lampu diskotik, tata panggung yang mbois banget. Dari seni tari, musik, teather, nyanyi, tradisional, kontemporer, cowok, cewek, komplit.

Pengalaman nonton Sipa 2013 kemarin yang berkesan ntu tarinya, bikin ngeces dah, soalnya bening bening yang nari. Apalagi acaranya nonstop mpe malem, pokoke dimanjake dah penonton. Sayang kemarin nggak bawa kamera, udah gitu kamera hape nggak gelap gulita pulak.

solo international performing arts 2014
Kan bening, nyomot dari facebooknya sipa ini
Sipa 2014 udah dimulai tadi sore sampai besok Sabtu tanggal 11 September 2014. Jadi yang posisi sekarang di seputaran Solo, mendingan langsung packing daypacknya bawa alat mandi dan temenin saya nonton yak!!. Hehehe. Wis tidur rumahku nggak popo.

Untuk jadwal acara bisa dilihat di web resminya, Acaranya mulai jam 7 malem, tapi saran saya sih dateng aja sore menjelang malam,biar dapet kursi dan bisa cepret-cepret di depan tanpa halangan melintang. Bawa cemilan and minuman, jangan lupa bawa kamera beserta baterai dan memorynya tentunya. Pokoknya nyesel deh kalau sampai nggak bawa kamera ntar disana.

Sebagai info saja, event ini gratissssssss... Cuman parkir doank ya kalau bawa kendaraan, itupun standar tarif parkirnya.

Tunggu opo maneh???
 
Mumpung ada sms gratis, mau sms anak2 dulu siapa tau ada yang mau ngedate besok malming. Itung-itung melepas kegalauan bersama. Tak tunggu yak!!! Kalau yang dari Jogja mau ikutan, ayowk bareng prameks an. Tut tut tut..


Suara takbir pun berkumandang. Entah Malam Senin, Selasa, Rabu atau Kamis Saya sudah lupa. Walaupun sangat mudah jika saya arahkan pointer ke arah pojok kanan bawah monitor untuk melihat hari apa kemarin itu. Yang jelas hari itu suara takbir menggaung-gaung, anginnya lumayan dingin berhembus menjilat lutut. Dari kejauhan terdengar suara berisik dari Masjid-masjid yang bersautan. Dag dig dug pada sibuk memukul bedug, ada pula yang pakai TOA pada arak arakan di atas Pick Up.

Iya, Besok Idul Fitri.
Sholat ied, sholat ied!!!

Seharusnya saya bersontak gempita, tapi ya biasa-biasa wae tuh sebulan Puasa full komplit pakai telor. Nggak ada perubahan mencolok di kehidupan Saya, Sahur Buka, Sahur Buka, tau tau udah Idul Fitri aja. Mengalir landai lurus tak menarik sama sekali. Yang terlihat jelas terjadi peningkatan cuman jarum di timbangan berat badan. Bukannya menurun malah meningkat pesat ini berat badan.

Walaupun begitu, Ramadhan kali ini ada kabar gembira di rumah tercinta. Ada tuyul kecil di rumah saya,
iya, tuyul.

Bentuknya bulet kayak Bapaknya, manis kayak Ibuknya, dan pastinya gantheng kayak Om nya donk. Namanya Ramdhani Esa Daniswara (kalau nggak salah), panggil aja Esa. Tuyul kecil ini anak pertama dari kakak saya, sekaligus cucu pertama dari orang tua saya. Usianya mau memasuki tahun pertama, soalnya dulu pas lahiran suasananya juga Ramadhan, jadi saya yakin usianya belum ada setahun.

topi bayi lucu
Nyengir nih bocah
Saya kira umur setahun untuk segelundung bayi itu masih kecil, belum bisa ngapa-ngapain, bisanya tiduran di kasur sambil senyam senyum. Eh, Lha ternyata tuyul yang satu ini nakalnya minta ampyun, yang lempar2, muter-muter, glinding-glinding, nangis nya kayak pakai TOA masjid, Sehari bisa nyaingin adzan masjid, 5x lebih meweknya, belom lagi Beolnya. Untung saya bukan ortunya.

Masih teringat saat baru nyeprot si Esa ini imyut banget, sumprit,,,. Gembul kayak Bakpao, pipinya mumpluk mumpluk kayak donat, bibirnya mincuk kayak daun cocor bebek. Pokoknya bawaanya nih tangan pengen nyubit dan pegang-pegang pipinya. Selang setahun tidak ada perubahan banyak, malah tambah nggemesin aja nih si Tuyul kecil ini. Rumah yang biasanya sepi jadi ramai kayak pasar. Yang biasanya jam 6 masih pada tidur, gara gara ini bocah belom ada jam 6 sudah pada bangun. Memang benar kalau boleh saya bilang, anak ntu layaknya lem alteco buat sebuah keluarga.

mainan anak lucu
Esa umur sehari
Mumpung nie anak masih di Solo, kesempatan nih buat ngasih hadiah. Beliin apa yak?, tas gunung, jaket gunung, sepatu gunung, topi gunung, sepeda gunung, sendal gunung???.

Lha berhubung saya kan kreatif, langsung aja ketik di Gugel donk. "Hadiah yang cocok buat balita cowok" ENTER. Keluar deh macem-macem, ada yang nyaranin maenan bayi yang warna warni, ada pula sepatu, topi bayi, puzzle, maenan yang dipukul-pukul dan kawan-kawan lainnya. Akhirnya saya putuskan ngasih topi bayi aja buat si Esa ini. Kebetulan kemarin mupeng sama topi pet ala pelukis gitu, kayaknya cocok deh sama gundulnya si Esa. Langsung deh cari cari di toko online masalah topi bayi yang satu ini. Banyak pilihannya, bagus bagus, lucu lucu, murah lagi. Whaaa bingung..

Lagi asyik asyik nyari topi pet di toko online, eh ternyata si Esa sudah punya topi pet banyak. Yaudah ganti cari mainan anak yang cocok buat balita cowok deh. Eh tapi, Kalau beliin mainan ntar mbawanya ke Lampung gimana pulak. Yaudah beliin topi aja deh, tapi selain topi pet. Setelah kelamaan googling dan milih milih, akhirnya nggak jadi beliin hadiah, Wahahaha, keburu balik Lampung sihh.
PHP banget ini si Om..

topi bayi murah
minta mentahnya aja Om
Mungkin tahun depan aja yak ngasih hadiahnya, kalau maenan bayi, atau topi bayi yang rekomeded buat si Esa apa ya??


Suara takbir pun berkumandang. Entah Malam Senin, Selasa, Rabu atau Kamis Saya sudah lupa. Walaupun sangat mudah jika saya arahkan pointer ke arah pojok kanan bawah monitor untuk melihat hari apa kemarin itu. Yang jelas hari itu suara takbir menggaung-gaung, anginnya lumayan dingin berhembus menjilat lutut. Dari kejauhan terdengar suara berisik dari Masjid-masjid yang bersautan. Dag dig dug pada sibuk memukul bedug, ada pula yang pakai TOA pada arak arakan di atas Pick Up.

Iya, Besok Idul Fitri.
Sholat ied, sholat ied!!!

Seharusnya saya bersontak gempita, tapi ya biasa-biasa wae tuh sebulan Puasa full komplit pakai telor. Nggak ada perubahan mencolok di kehidupan Saya, Sahur Buka, Sahur Buka, tau tau udah Idul Fitri aja. Mengalir landai lurus tak menarik sama sekali. Yang terlihat jelas terjadi peningkatan cuman jarum di timbangan berat badan. Bukannya menurun malah meningkat pesat ini berat badan.

Walaupun begitu, Ramadhan kali ini ada kabar gembira di rumah tercinta. Ada tuyul kecil di rumah saya,
iya, tuyul.

Bentuknya bulet kayak Bapaknya, manis kayak Ibuknya, dan pastinya gantheng kayak Om nya donk. Namanya Ramdhani Esa Daniswara (kalau nggak salah), panggil aja Esa. Tuyul kecil ini anak pertama dari kakak saya, sekaligus cucu pertama dari orang tua saya. Usianya mau memasuki tahun pertama, soalnya dulu pas lahiran suasananya juga Ramadhan, jadi saya yakin usianya belum ada setahun.

topi bayi lucu
Nyengir nih bocah
Saya kira umur setahun untuk segelundung bayi itu masih kecil, belum bisa ngapa-ngapain, bisanya tiduran di kasur sambil senyam senyum. Eh, Lha ternyata tuyul yang satu ini nakalnya minta ampyun, yang lempar2, muter-muter, glinding-glinding, nangis nya kayak pakai TOA masjid, Sehari bisa nyaingin adzan masjid, 5x lebih meweknya, belom lagi Beolnya. Untung saya bukan ortunya.

Masih teringat saat baru nyeprot si Esa ini imyut banget, sumprit,,,. Gembul kayak Bakpao, pipinya mumpluk mumpluk kayak donat, bibirnya mincuk kayak daun cocor bebek. Pokoknya bawaanya nih tangan pengen nyubit dan pegang-pegang pipinya. Selang setahun tidak ada perubahan banyak, malah tambah nggemesin aja nih si Tuyul kecil ini. Rumah yang biasanya sepi jadi ramai kayak pasar. Yang biasanya jam 6 masih pada tidur, gara gara ini bocah belom ada jam 6 sudah pada bangun. Memang benar kalau boleh saya bilang, anak ntu layaknya lem alteco buat sebuah keluarga.

mainan anak lucu
Esa umur sehari
Mumpung nie anak masih di Solo, kesempatan nih buat ngasih hadiah. Beliin apa yak?, tas gunung, jaket gunung, sepatu gunung, topi gunung, sepeda gunung, sendal gunung???.

Lha berhubung saya kan kreatif, langsung aja ketik di Gugel donk. "Hadiah yang cocok buat balita cowok" ENTER. Keluar deh macem-macem, ada yang nyaranin maenan bayi yang warna warni, ada pula sepatu, topi bayi, puzzle, maenan yang dipukul-pukul dan kawan-kawan lainnya. Akhirnya saya putuskan ngasih topi bayi aja buat si Esa ini. Kebetulan kemarin mupeng sama topi pet ala pelukis gitu, kayaknya cocok deh sama gundulnya si Esa. Langsung deh cari cari di toko online masalah topi bayi yang satu ini. Banyak pilihannya, bagus bagus, lucu lucu, murah lagi. Whaaa bingung..

Lagi asyik asyik nyari topi pet di toko online, eh ternyata si Esa sudah punya topi pet banyak. Yaudah ganti cari mainan anak yang cocok buat balita cowok deh. Eh tapi, Kalau beliin mainan ntar mbawanya ke Lampung gimana pulak. Yaudah beliin topi aja deh, tapi selain topi pet. Setelah kelamaan googling dan milih milih, akhirnya nggak jadi beliin hadiah, Wahahaha, keburu balik Lampung sihh.
PHP banget ini si Om..

topi bayi murah
minta mentahnya aja Om
Mungkin tahun depan aja yak ngasih hadiahnya, kalau maenan bayi, atau topi bayi yang rekomeded buat si Esa apa ya??