Freeland, Mapala, dan Sispala Freeland, Mapala, dan Sispala ~ Kempor.Com Freeland, Mapala, dan Sispala

Sabtu, 30 Januari 2010

Mapala sering diartikan Mahasiswa Pecinta Alam, ataukah Mahasiswa Penikmat Alam?
Ataukah “Mahasiswa Paling Lama” ( mundur lulusnya ), atau kalau dosenku sering bilang “Mahasiswa Paling Langka”. Terserah mereka mau berpendapat apa mengenai mapala, yang penting penulis cuman ingin memperjelas yang namanya “Mapala” di mata penulis sendiri.

Dari “kamus pengalaman” penulis, dikatakan bahwa mapala merupakan suatu organisasi yang bertujuan melestarikan alam sekitar dan anggotanya adalah seorang mahasiswa. Tetapi ada juga yang bukan mahasiswa sich, kita sering sebut dengan nama “sispala” bedanya hanya terletak pada angggota nya yaitu seorang siswa sma atau sederajat. Selain itu ada juga istilah “freeland”, kalau yang ini bukan siswa atau mahasiswa tetapi sudah bekerja atau lulus kuliah,dan tidak terikat oleh aturan organisasi. Sebenarnya kalau dipandang dari sudut tujuan organisasi tersebut, mereka semua sama. Yang membedakan hanya pandangan pikiran yang di miliki masing masing anggota, dalam hal ini di titik beratkan pada masalah “umur” para anggotanya.

Berhubung penulis bukan sispala atau freeland, lebih baik kita membicarakan masalah mapala saja.
Berdasarkan survey yang penulis lakukan walaupun belum akurat 100%, orang awam memandang mapala merupakan kumpulan orang orang yang hobynya naek gunung. Ada yang bilang mapala merupakan “anak hutan” dikarenakan sering berbaur dengan yang namanya “hutan”. Memang betul, mapala sering bergaul dengan “hutan” (kalu lebih enak kita pakai kata “alam” saja) tetapi bukan berarti aktivitas mapala cuma di alam saja.


Mapala merupakan bhineka Tunggal Ika, mereka dari golongan berbeda beda. kaya, miskin, pintar, bodoh, pria, wanita, tampan, cantik, jelek, pas2 an (aku banget), anak konglomerat, pengusaha, pedagang, petani, semua ada. Kalau penulis bahas ndak selesai nanti, yang jelas dari Sabang sampai Merauke semua ada. Mereka semua keluarga, walau bukan dari Bapak atau Ibu sekandung, orang tua mereka adalah alam ini. Mapala memiliki ikatan yang kuat antar anggotanya, tua, muda saling menghormati. Mereka memiliki keanggotaan “seumur hidup” yang berarti bahwa selama dia masih hidup, maka dia masih menjadi anggota organisasinya tersebut. Kecuali mengundurkan diri atau keluar atas pertimbangan-pertimbangan tertentu.
Kesan mapala sekarang menurun, orang tua jaman sekarang menganggap bahwa mapala merupakan kumpulan orang orang malas, yang paling lama lulusnya atau sering disebut “macan kampus” (kayak lagunya PHB aja). Mereka bodoh, kotor, kurangkerjaan, dan susah diatur.


Tetapi dari sudut pandang mapala sendiri berpendapat beda. “Mapala memang bodoh” karena jarang masuk kuliah dibandingkan mahasiswa pada umumnya, “kami memang kotor” tapi hanya sebagian dari mereka yang jarang mandi ^_^, “kami susah diatur dan itu memang benar”. Bukan sekedar susah diatur saja, mereka cuman pengen mengeluarkan pendapat kuk. Mereka berpenampilan agak berbeda dengan mahasiswa lain, memang biasanya jadi macan kampus tadi, mahasiswa lain pada takut sama mereka. Para dosen sangat benci yang namanya “mapala”, soalnya sering tidak masuk, tidak ikut mid semester, atau jarang ngumpulin tugas tepat waktu. 


Tapi yang anehnya apa?
Sebagian besar Mapala sangat menghormati orang tua mereka, walaupun mereka nakal, usil, dan seperti tak punya rasa takut pada siapa saja, tetapi mereka masih takut dengan orang tua mereka. Penjelasan diatas merupakan penjabaran kehidupan mapala dikampus, yang sering di cap negative oleh orang orang awam di kampus.


Tetapi lain halnya saat mereka masuk dalam sesi organisasi, mereka professional. Mereka juga mempunyai “struktur organisasi”, ”rancangan kerja”, ”pertanggungjawaban”, dan semua hal yang penulis tidak kenal sebelumnya, layaknya organisasi pada umumnya. Ketua, sekertaris, bendahara, dll. Mapala mempunyai loyalitas yang tinggi, kekeluargaan, sosial yang tinggi. Mereka sering terjun langsung dalam aksi aksi sosial (tetapi para “awam” biasanya tidak tahu).


Mereka tidak digaji layaknya polisi, tentara maupun pegawai pemerintah lainnya, Cuman kata loyalitas yang di pegang oleh seorang mapala, dan itu sudah lebih dari cukup bagi mereka.
Dan hal itulah yang menjadi kebanggaan seorang mapala.


Sedikit menyinggung mengenai sispala maupun freeland tadi. Boleh dikatakan mereka sama, prinsip dan tujuan mereka sama. Hanya saja sispala lebih ke ‘maen’ nya dari pada interaksi sama OPA (organisasi pecinta alam), freeland dengan basic pecinta alam yang asli dan biasanya berawal dari hoby naek gunungnya, sistem perekrutan anggota merekapun berbeda beda. Kalau di pandang dari segi prestasi mapala, sispala, maupun freeland lebih menonjol ke mapalanya. Walaupun tidak menutup kemungkinan sispala maupun freeland lebih berbobot dari mapala. Tetapi yang jelas kalau dilihat dari materi yang dimiliki per OPA, mapala lah yang memiliki lebih banyak materi. Dikarenakan status pendidikan dan masa keanggotaan yang lebih lama dari sispala maupun freeland.


Disini penulis bukan menjelek jelekan suatu organisasi maupun membanding bandingkannya, tetapi tak lain halnya cuma membahas suatu masalah dari pihak penulis. Dan seumpanya ada yang merasa tersinggung mohon dimaafkan.


Sepatah kata dari seorang “mapala pengecut” :

“Enyah saja para pemburu liar!!”
“makanlah pelurumu!!!!, lewat generasi setelahmu”
“biar kalian tahu apa itu punah”
“Enyah saja para pemilik pabrik!!!”
“payungkan uangmu diatas, agar tidak panas”
“biar kalian tahu bumi sudah lelah meneduhkanmu”
“dan untuk para generasi modern yang idealis!!!”
“empat acungan jempol!!!, kalian masih memberikan tempat istirahat”
“bagi hewan yang sudah punah itu,,,
“MUSEUM”


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

0 comments:

Poskan Komentar

Mohon tulis nama asli/panggilan/lapangan/panggung/pena etc.
No keyword, No spam, ataupun hal-hal yang jelas.

Terima kasih sudah comment.